Kamis, 27 September 2012

Selasa, 18 September 2012

LDR


CARA MENGATASI LDR (LONG DISTANCE RELATIONSHIP)
Banyak sepasang kekasih yang kini berhubungan jarak jauh, semua bisa disebabkan karena adanya kesibukan pekerjaan,untuk menempuh pendidikan,atau hal lainnya.Berikut adalah cara-cara untuk mengatasi LDR atau yg sering di sebut Long Distanse Relationship. 
  1. Yang paling penting adalah rasa kepercayaan yang tinggi satu sama lain
  2.  Milikilah rasa sayang yg tulus terhadap kekasih anda, tanamkan bahwa anda benar benar menyayangi nya dan akan setia menjaga perasaan nya ketika berjauhan.
  3. Milikilah rasa setia di antara masing masing hati anda, karena sebenar nya kunci paling utama dari seuah hubungan jarak jauh adalah kepercayaan dan kesetiaan.
  4. Yg tak kalah penting nya lagi adalah rasa saling pengertian di antara kalian.
  5. Ini yg tak boleh di lewatkan. komunikasi ya lancar ! Sebab tanpa adanya komunkasi yang lancar, sebuah hubungan bisa saja mengalami miss communication sehingga menyebabkan adanya rasa saling curiga trhadap pasangan anda.
  6. Jangan lupa untuk bisa mengontrol diri anda ketika berjauhan dengan pasangan anda, anda harus tahu batas batas apa yg boleh di lakukan atau tidak boleh di lakukan. sehingga anda bisa menjaga perasaan pasangan anda saat berjauhan .
  7. Dan yg terakhir adalah diperlukannya sikap dewasa di antara kalian, sehingga tidak melulu menimbulkan pertengkaran ketika ada sesuatu yang sebenar nya tak perlu di ributkan .

d     diambil dari http://writediwrite.blogspot.com

Sabtu, 18 Agustus 2012


Selamat Hari Raya Idul Fitri, Taqobalallahu Minnaa wa Minkum, Minal ‘Aidin wal Faizin, Mohon Maaf Lahir Batin



Minggu, 12 Agustus 2012

Hukum Tidur Saat Berpuasa


[CiriCara.com] – Seperti yang sudah diketahui bahwa bulan Ramadan adalah bulan penuh dengan berkah. Kegiatan amal yang dilakukan seorang muslim saat Ramadan akan dilipatgandakan pahalanya. Bahkan, tidurnya orang berpuasa juga berpahala. Banyak sekali para ustad atau da’i yang menyampaikan dakwah bahwa tidur orang yang berpuasa adalah ibadah dan mendapat pahala. Bahkan para ulama mengatakan bahwa hal itu dijelaskan pada hadits Nabi Muhammad SAW. “Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah. Diamnya adalah tasbih. Do’anya adalah do’a yang mustajab. Pahala amalannya pun akan dilipatgandakan,” arti dari hadist Nabi mengenai tidur di bulan Ramadan. Hadist ini sering memunculkan pertanyaan apa hukumnya tidur saat puasa? 1. Tidur seharian dan tidak bangun saat waktu salat Tidur seharian dan tidak bangun untuk melaksanakan salat adalah termasuk perbuatan maksiat dan dibenci oleh Allah SWT. Karena sesungguhnya salat lima waktu hukumnya wajib. Meski dia sedang berpuasa, tetap dia akan mendapat dosa karena lalai dalam salatnya. 2. Tidur dan bangun untuk salat Hukum seorang yang tidur tetapi bangun untuk menjalankan salat secara berjamaah kemudian tidur lagi adalah sia-sia (mubah). Tidur ini tidak membatalkan puasanya, hanya saja tidur ini sia-sia karena sesungguhnya masih ada kegiatan yang lebih baik daripada tidur. Jangan pernah sekali-kali Anda menyia-nyiakan bulan Ramadan dengan tidur setiap hari. Manfaatkanlah bulan Ramadan ini dengan melakukan amalan yang bermanfaat seperti, salat, membaca Alquran, bersih-bersih, bekerja, dan bersekolah. Karena sesungguhnya kegiatan-kegiatan ini jauh lebih baik daripada tidur. Kesimpulannya, tidur saat berpuasa memang merupakan ibadah. Tapi, kita tidak boleh tidur sepanjang hari apalagi sampai melupakan waktu salat karena masih ada kegiatan yang lebih bermanfaat. Ingat! Islam tidak pernah menyuruh umatnya untuk bermalas-malasan. Jadi, tidak ada alasan untuk bermalas-malasan (tidur) di saat bulan menjalankan ibadah puasa





Senin, 23 Juli 2012

lucu2

Suatu ketika, seorang cewek yang sedang jengkel karena rayuan gombal cowok, membalas rayuan cowok itu.
 Cew : "Bang, kalo lihat abang, saya jadi ingat lagunya ADA Band."
Cow : "Masa sih neng... Abang jadi GR nih.."
Cew : "Beneran sumpah bang..."
Cow : "Emang lagu apa si neng? Kau Auraku ya...?"
Cew : "Bukan bang..."
Cow : "hmmmm... Surga Cinta ya?"
Cew : "Juga bukan bang"
Cow : "trus lagu apa neng?"
Cew : "MANUSIA BODOH" wkwkwkwkwkw



dari: kumpulan cerita lucu

Selasa, 12 Juni 2012

Poinf of View dalam Cerpen



Point of view berhubungan dengan siapakah yang menceritakan kisah dalam cerpen. Cara yang dipilih oleh pengarang akan menentukan sekali gaya dan corak cerita. Hal ini disebabkan, watak dan pribadi si pencerita (pengarang) akan banyak menentukan cerita yang dituturkan pada pembaca. Tiap orang punya pandangan hidup, cara berpkiri, kepercayaan, maupun sudut emosi yang berbeda-beda. Penentuan pengarang tentang soal siapa yang akan menceritakan kisah akan menentukan bagaimana sebuah cerpen bisa terwujud.
Adapun sudut pandang pengarang sendiri empat macam, yaitu sebagai
berikut.
a.    Objective point of view
Dalam teknik ini, pengarang hanya menceritakan apa yang terjadi, seperti kamu melihat film dalam televisi. Para tokoh hadir dengan karakter masing-masing. Pengarang sama sekali tak mau masuk ke dalam pikiran para pelaku. Dengan demikian, pambaca dapat menafsirkan sendiri bagaimana pandangannya terhadap laku tiap tokoh. Dan dengan melihat perbuatan orang lain tersebut kita menilai kehidupan jiwanya, kepribadiannya, jalan pikirannya, ataupun perasaannya.
Motif tindakan pelakunya hanya bisa kita nilai dari perbuatan mereka. Dalam hal ini, pembaca dapat mendari tafsiran sendiri dari dialog antartokoh maupun tindak-tanduk yang dilakukan tiap tokoh. Pengarang paling hanya memberikan sedikit gambar mengenai kondisi para tokoh untuk “memancing” pembaca mengetahui lebih jauh tentang tokoh-tokoh yang ada dalam cerita.

b.    Omniscient point of view
Dalam teknik ini, pengarang bertindak sebagai pencipta segalanya. la tahu segalanya. la bisa menciptakan apa saja yang ia perlukan untuk melengkapi ceritanya sehingga mencapai efek yang diinginkannya. la bisa keluar-masukkan para tokohnya. la bisa mengemukakan perasaan, kesadaran, jalan pikiran para pelaku cerita. Pengarang juga bisa mengomentari kelakuan para pelakunya. Bahkan pengarang bisa bicara langsung dengan pembacanya.
Ciri omniscient point of view lebih cocok untuk cerita yang bersifat sejarah, edukatif, ataupun humoris. Teknik ini biasa digunakan untuk hal-hal yang bersifat informatif bagia pembaca, yang kiranya memang pembaca belum begitu banyak mengetahui. Tentunya, teknik ini biasanya digunakan dalam penulisannya dilakukan observasi (pengamatan maupun pembacaan).
c.    Point of view orang pertama
Teknik ini lebih populer dikenal di Indonesia. Teknik ini dikenal pula dengan teknik sudut pandnag “aku”. Hal ini seperti seseorang mengajak bicara pada orang lain. Jadi, bukan pengalaman orang lain yang diceritakan. Dengan teknik ini, pembaca diajak ke pusat kejadian, melihat, merasakan melalui mata dan kesadaran orang yang langsung bersangkutan. Tentunya, pemabaca juga harus cerdas membedakan jangan sampai pikiran “aku” dalam cerpen disamakan dengan pikiran si pengarang itu sendiri.
Teknik sudut pandang seperti ini sangat cocok untuk cerpen yang mebceritakan masalah kejiwaan (psikologis) sang tokoh. Pembaca dibawa hanyut dalam setiap gerak emosi sang tokoh.
d.   Point of view orang ketiga
Teknik biasa digunakan dalam penuturan pengalaman seseorang sebagai pihak ketiga. Jadi, pengarang hanya “menitipkan” pemikirannya dalam tokoh orang ketiga. Orang ketiga (“Dia”) dapat juga berupa nama orang. Adapun perkembangan emosi tokoh dalam membentuk konflik dapat dilihat dalam hubungannya antara tokoh utama “dia” dengan tokoh lainnya.
Dengan menggunakan tokoh ini, pengarang bisa lebih leluasa dalam menceritakan atau menggambarkan keadaan tanpa terpaku pada pandangan pribadi, beda halnya dengan menggunakan tokoh “aku”. Sang tokoh utama dapat seolah-olah berkembang sendiri dengan pemikiran sendirinya pula. Dengan demikian, pembaca dibawa untuk memahami sendiri bagaimana tokoh “dia” bertindak tanpa harus memikirkan peranan sang pengarang terhadap tokoh tersebut.

Selasa, 05 Juni 2012

TIPS SUKSES UKK

Oke & PD Menghadapi UKK
  1. Mengetahui Jadwal Ujian. 
  2. Motivasi belajar; menyiapkan materi dengan sebaik mungkin
  3. Mempelajari kembali materi yang sudah disampaikan oleh guru mapel masing-masing pelajaran dengan cara memahami kisi-kisi yang telah diberikan.
  4. Menjawab pertanyaan ujian dengan jujur ketika menghadapi ulangan [percaya diri]. 
  5. Dilarang mencontek. Secara psikologis, kegiatan mencontek memberikan dampak yang tidak baik terhadap peserta ujian seperti (a) perasaan takut ketika mengikuti tes jika ada pemeriksaan mendadak, (b) membuat konsentrasi buyar karena adanya keinginan untuk membuka contekan, (c) mengurangi rasa percaya diri dengan jawaban, dan (d) menyia-nyiakan waktu secara percuma untuk membuat bahan contekan yang belum tentu bisa dipergunakan saat ujian.
  6. Guru membekali siswa dengan strategi pengerjaan soal yang baik
  7. Berdo’a sebelum dan sesudah belajar, agar Allah SWT memberikan pemahaman. 

DP:  Nanang Bagus Subekti, Mohamad Roup